3 Aturan Tata Nama Senyawa Biner

Tata Nama Senyawa Biner – Kali ini kami akan berbagi sedikit penjelasan mengenai tata nama senyawa biner. Sebelum sahabat memahami bagaimana tata nama senyawa biner, terlebih dahulu sahabat harus memahami arti dari senyawa biner. Pengertian senyawa biner adalah senyawa yang hanya terdiri dari dua jenis unsur saja, misalnya air (H2O), amonia (NH3), dan metana (CH4).
Tata Nama Senyawa Biner
Aturan Tata Nama Senyawa Biner

Tata Nama Senyawa Biner

Dalam penaman senyawa biner digunakan beberapa aturan, baik dari segi penulisan rumus kimia, penamaan senyawanya sampai dengan bagaimana penamaan dari senyawa yang telah dikenal secara umum. Untuk lebih jelasnya mengenai hal tersebut dalam hal ini tata nama senyawa biner, berikut ulasannya:

1. Rumus Senyawa Biner

Dalam penulisan rumus kimia dari suatu senyawa, terdapat ketentuan dari segi pengurutan penulisan unsurnya. Unsur yang terdapat lebih dahulu dalam urutan berikut ditulis di depan. Berikut urutannya:
B – Si – C – S – As – P – N – H – S – I – Br – Cl – O – F
Misalnya:
Rumus kimia amonia lazim ditulis sebagai NH3 bukan H3N dan rumus kimia air lazim ditulis sebagai H2O bukan OH2.

2. Penamaan Senyawa Biner

Aturan tata nama dari senyawa biner yaitu nama senyawa biner dari dua jenis nonlogam merupakan rangkaian nama kedua jenis unsur dengan akhiran ida pada nama unsur yang kedua.
Contohnya:
  • HCl = hidrogen klorida
  • H2S = hidrogen sulfida
Jika pasangan unsur yang bersenyawa membentuk lebih dari satu jenis senyawa, maka senyawa-senyawa itu dibedakan dengan menyebutkan angka indeks dalam bahasa Yunani sebagai berikut.
1 = mono
2 = di
3 = tri
4 = tetra
5 = penta
6 = heksa
7 = hepta
8 = okta
9 = nona
10 = deka

Untuk penerapan penyebutan nama senyawa dengan memanfaatkan indeks dalam bahasa Yunani di atas yaitu dimana Indeks satu (1 = mono) tidak perlu disebutkan, kecuali untuk karbon monoksida.
Contoh:
Tata Nama Senyawa Biner
  • CO = karbon monoksida (awalan mono untuk C tidak perlu disebutkan)
  • CO2  = karbon dioksida
  • N2O = dinitrogen oksida
  • NO = nitrogen oksida
  • N2O3  = dinitrogen trioksida
  • N2O4  = dinitrogen tetraoksida
  • N2O5  = dinitrogen pentaoksida
  • CS2  = karbon disulfida
  • CCl4  = karbon tetraklorida

3. Penamaan Khusus Bagi Senyawa Umum

Selanjutnya untuk tata nama senyawa biner yang sudah umum dikenal tidak perlu mengikuti aturan penamaan seyawa seperti dijelaskan pada poin kedua di atas mengenai penamaan senyawa. Seperti beberapa contoh senyawa berikut:
  • H2O = air
  • NH3  = amonia
  • CH4  = metana
Demikianlah penjelasan singkat mengenai bagaimana aturan tata nama senyawa Biner yang dapat kami bagikan pada kesempatan kali ini. Jadi secara umum ada tiga aturan yang dapat diikuti dalam memberikan penamaan dalam suatu rumus kimia senyawa biner diantaranya; yang pertama, dalam penulisan senyawa mengikuti sebuah urutan yang telah ditentukan dan tidak boleh saling bertukar cara penulisan rumus kimia dari suatu senyawa biner. Kedua, dalam memberikan nama dari suatu senyawa biner, unsur yang lebih dari satu ikatan dalam satu persenyawaan biner penamaannya mengikuti indeks dalam bahasa Yunani. Dan yang ketiga, beberapa senyawa yang sudah umum dikenal, tidak perlu mengikuti aturan indeks bahasa Yunani dalam pemberian nama senyawanya.

Semoga penjelasan di atas dapat dengan mudah dimengerti dan dapat menjadi salah satu refernsi yang baik bagi kita semua dalam memahami bagaimana aturan penamaan atau tata nama senyawa Biner tersebut.

Pustaka:
[Tata Nama Senyawa Biner – RumusKimia.net 2017]
[Kimia Kelas 1 SMA/MA oleh Penulis: Budi Utami, Agung Nugroho Catur Saputro, Lina Mahardiani, Sri Yamtinah, & Bakti Mulyani; Terbitan 2009]
[Image - Koleksi Penulis; 2017]

Bagikan ke :

Facebook Google+ Twitter